Artikel Populer

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Senin, 01 Maret 2010

KH. Ma'sum Cholil

Putra ketiga dilahirkan di Rejoso pada 21 Pebruari 1911 diselamatkan dengan nama Syauki, waktu besar disebut Ma’soem. Seperti halnya kakaknya masa kecilnya diasuh oleh ayahnya sendiri. Pada tahun 1920 Beliau diikutkan dalam rombongan Haji keluarga untuk beranjak kesana ketempat suci.

Setelah itu baru ditempatkan pada Pondok Pesantren Tebuireng asuhan Kyai Hasyim sampai tahun 1926. Tahun 1926 sampai 1928 belajar lagi ke ayahnya serta pamannya Kyai Tamim dan pada 1928 melanjutkan studi bersama kakaknya di Saudi Arabia pada Madrasah Al Sutaiyah Al Hindiyah di bawah asuhan Syeh Salim Al Hindi. Di tahun 1935 Syauki mempunyai karir baru yaitu sebagai tenaga pengajar di Madrasah Darul ‘Ulum Makkah dan baru pulang kembali ke tanah air tahun 1937. Sampai disini pendidikannya dilanjutkan lagi dalam bidang studi Qiraat atau baca ayat suci di Pondok Pesantren Sedayu Gresik. Baru kemudian pada tahun 1938 Beliau dikawinkan dengan putri Haji Hasyim Jagalan Jombang mempunyai nama Nyi Chasanah dengan perkawinan ini lahirlah Chafsoh, Abdul Channan, Abdul Hakam, Siti Aisyah, Abdul Hafidz, Abdul Hakim dan Abdul Halim.

Pada masa hidupnya maupun pendidikan. Tahun 1940 sebagai wakil Suriah NU Jombang, tahun antara 1946 – 1948 sebagai PBRI Jombang, tahun 1947 Beliau mendirikan DARUL AITAM satu yayasan sosial yang memberikan santunan kepada anak yatim piatu. Yayasan ini sekarang masih ada dan terawat yang dikelola oleh Drs. Abdul Hafidz putra Beliau. Tahun 1946 sebagai pelaksana Aministrasi Manajemen di Jamiyah Thariqot Qodiriyah Naqsabandiyah, tahun 1950 menjabat ketua Ma’arif NU Jombang dan kemudian menjadi anggota Konstituante Republik Indonesia.

Pengalaman demi pengalaman tersebut pada masa akhir pengabdian di Pondok Pesantren Darul ‘Ulum sangat berguna sekali terutama masalah manajemen pendidikan. Oleh karenanya ketika Kyai ini wafat 26 Rajab 1380 bertepatan Januari 1961 pondok ini merasa kehilangan lagi satu tokoh.

KH. Dahlan Cholil

Dahlan Cholil dilahirkan di Rejoso pada 12 Sya’ban 319 H atau tahun 1899 M. Dengan nama bayi Khusni, sebagai anak pertama Kyai Cholil nantinya Beliau dituntut menggantikan ayahnya, untuk itulah didikan masa kanak – kanaknya ditangani langsung oleh ayahnya. Pada usia yang ke XII Beliau di bawa ke Makkah untuk mengikuti upacara Haji sebagai bekal masa depannya yang telah dipersiapkan harus studi di Makkah Mukarramah. Sebelum diberangkatkan kembali, Beliau sempat belajar pada Kyai Hasyim Asy’ari di Tebuireng tentang seluk beluk per Haditsan.

Menurut catatan harian Beliau, pada tahun 1343 H – 1923 M. Dahlan memulai karir studinya di Makkah, Saudi Arabia. Yang waktu itu disana tepat bersamaan dengan pergolakan Kaum Wahabi, suatu pergerakan yang dipimpin oleh Raja Saud pendiri kerajaan Saudi Arabia, yang gerakan ini kemudian digunakan oleh orang – orang yang takbertanggung jawab ingin menghancurkan benda kepurbakalaan Islam. Selama tinggal di Makkah, karir pendidikannya berjalan dengan cepat, sehingga beberapa waktu kemudian Beliau sudah duduk sebagai Guru Besar pada Majelis Syafi’iyah dan Tilawatil Qur’an di Masjid Al Haram. Tentunya hal itu diperolehnya setelah Beliau hafal Al Qur’an. Demikian pula di Lembaga Madrasah Darul ‘Ulum Makkah. Satu lembaga pendidikannya yang dikelola olehnya bersama masyarakat Indonesia dan Malaya Beliau telah di percaya sebagai Kepala Guru yang mengatur jalannya manajemen kulikulir.

Setelah berjalan tiga belas tahun, Kyai ini pada tahun 1938 pulang kembali ke tanah leluhur dan dikawinkan dengan putri Kyai Ahmad Carogo, Jombang yang kemudian melahirkan putra – putra Beliau yang bernama : Muhammad Dahlan, Siti Aisyah, Mahmud, Hafsah dan Abdul Hamid. Dua putra terakhir telah dipundut oleh Gusti Allah SWT kala merambat usia remaja. Istri pertama di beri nama Siti Fatimah untuk yang terakhir kali menikmati Dunia adalah pada tahun 1950 setelah tahun itu wafat. Pada tahun 1951 Beliau kawin lagi dengan cucu Kyai Haji Hasyim Asy’ari Tebuireng bernama Nyi Zubaidah (Sholihah). Perkawinan ini menciptakan putra Cholil Dahlan, Chozin Dahlan, dan Cholisoh Dahlan.

Masa – masa di Pondok Pesantren Darul ‘Ulum digunakan Kyai Haji Dahlan sebagai waktu – waktu pengabdian. Utamanya membina madrasah Tahassus Al Qur’an plus Ilmu Tafsirnya disamping Ilmu Al Haditsnya. Yaitu dua bidang studi yang selalu ditekuninya dimanapun Beliau berada di ayahnya Kyai Hasyim maupun waktu belajar di Makkah. Spesialisasi di bidang tersebutlah yang menyebabkan Beliau harus selalu disegani di Lajnah Tashihul Mushaf Qur’an Indonesia. Beliau harus tunduk ke Takdir Tuhan tentang kematian pada 25 Sya’ban 1377 bertepatan dengan 16 Maret 1958. Innalillahi Wainnailaihi Roji’un.

KH. Romly Tamim

KH. Romly Tamim

Tokoh Romly Tamim kelahiran Rejoso tahun 1888 M Beliau adalah putra KH. Tamim yang ketiga. Pengalaman pendidikan diperoleh dari ayah dan kakak iparnya dalam usia muda, sedang masa menjelang dewasanya dididik di Pondok Pesantren Bangkalan Madura seperti ayah dan kakak, yaitu dibawah asuhan Kyai Cholil. Dari pendidikan ini kemudian diteruskan ke pendidikan Tebuireng yang sudah diasuh oleh KH. Hasyim Asy'ari. Waktu Kyai Romly Tamim sudah ikut membantu sebagai tenaga pengajar, Kyai Hasyim mulai menaruh simpati dan sayangnya kepada tenaga baru tersebut. Dari sinilah simpati ini berkelanjutan sehingga pada tahun 1923 M Kyai Romli Tamim di ambil menantu oleh Kyai Hasyim mendapatkan Nyi Azzah Binti Hasyim Asy'ari. Dalam perkawinan ini tidak membuahkan satu anakpun.

Sesuai pengabdiannya di Tebuireng, dan setelah merasa gagal pada perkawinan pertama ia kawin lagi dengan putri desa Besuk Jombang yang bernama Nyi Maisaroh, Perkawinan ini menghasilkan putra Ishomudin yang telah kembali ke Rahmatullah dan Musta'in Romly. sepeninggalan Nyi Maisaroh Beliau kawin dengan Nyi Khodijah hingga berputra : A. Rifa'i, Shonaji, A. Dimyathi, Moh. Damam Huri dan Tamim.

Di akhir hayatnya Beliau sebagai Al Mursyid Thariqot Qodiriyah Wanaqsyabandiyah menggantikan KH. Cholil selama perjalanan hidup Beliau sempat menulis dan menyusun buku - buku pegangan Thoriqot antara lain Risalah Waqiah, Risalah Sholawat Nariyah dan Tsamratul Fikriyah, Allah SWT memanggilnya kembali ke alam sana pada 16 Ramadhan 1377 H atau 16 April 1958 M.

KH. Cholil Aljuraimy

KH. Cholil dilahirkan di Demak Jawa Tengah dengan nama kecil : Muhammad Juraemi. Mereka adalah manusia gemar langlang buana, karena sebagian besar keluarga berada hidup merantau. Kyai Cholil dan Kyai Syafawi di Rejoso Jombang, KH. Hanafi di Jamsari Jember dan Nyi Marsina di Pare Kediri.

Pendidikan KH. Cholil semasa kecil dibina langsung oleh ayahnya sendiri sampai tiba saatnya menjelang dewasa harus menempuh pendidikannya pada tingkat ilmu yang lebih tinggi, yaitu di Pondok Pesantren KH. Asy'ri ayah KH. Hasyim Asy'ari Tebuireng Jombang. Setelah merasa cukup meninggalkan Keras, Tebuireng, berpindah berguru di Pondok Pesantren Bangkalan Madura di bawah asuhan KH. Cholil Bangkalan. Di Pondok inilah karakter Beliau dibidang studi amalan tasawuf Islam mulai menampakkan diri dalam kesederhanaan sikap hidup sehari - hari.

Dengan tekun Beliau memulai babakan baru menurut panggilan nuraninya. KH. Cholil tahu akan gejala demikian menyebabkan Beliau sering mengadakan uji coba terhadap murid yang satu ini. Sekali waktu kala KH. Cholil ini sedang melicinkan baju putih satu - satunya miliknya, di panggil oleh kyai Cholil sang guru, lalu serta merta Beliau disuruh menggali tanah dengan baju putih itu, uh.....! tentu saja baju putih itu kontnag berlepotan tanah hujan pagi. sementara KH. Cholil Demak dengan tabah diturutinya perintah itu. Barang kali nanti ada imbalan manfaatnya di kemudian hari. Hati kecilnya berkata.

Setelah cukup lagi di Bangkalan, Beliau balik lagi di Pondok Pesantren KH Asy'ari untuk mengabdikan diri yang kedua kalinya. Sebatas usia 34 tahun karena simpati terhadap niat luhur KH. Tamim Irsyad di Desa Rejoso (+/- 11 km dari Tebuireng). Dibantunya Kyai Tamim dalam membabat Desa Rejoso. Lalu simpati ini tidak disia - siakan oleh Kyai Tamim, karena KH. Cholil diambil menantu oleh Kyai Tamim Irsyad mendapat putri beliau yang bernama Siti Fatimah. Perkawinan ini menghasilkan enam orang putra, yaitu : Dahlan Bin Cholil, Maimunah Binti Cholil, Sauky yang populer dangan nama Ma'soem, Bishry dan Rahmah Binti Cholil.

Sesal kemudian takkan ada gunanya tanpa ada kerja keras selanjutnya, itulah semboyan KH. Cholil, yang pada waktu bersama istri tercinta Siti Fatimah pergi haji, sepulangnya ia harus rela menerima kersa Allah SWT, harus pulang sendiri karena partnernya wafat, dan pada gilirannya Beliau dipanggil Yang Maha Kuasa di tanggal 14 Juli 1937 sehabis Jamaah subuh. Ia masih sempat berkerunan lewat istri kedua, yang dinikahi setelah Nyai Fatimah wafat, sebanyak tiga putra yaitu : Moh. Fofyan, Achmad Badawi dan Chamidah.
Selasa, 08 Desember 2009

Mahkamah Agung Larang Ujian Nasional (UN) 2010







Logo MA
MahkamahAgung (MA) melarang pemerintah melaksanakan Ujian Nasional (UN). MA menolak kasasi gugatan Ujian Nasional (UN) yang diajukan pemerintah. Dengan putusan ini, UN dinilai cacat hukum dan pemerintah dilarang menyelenggarakan UN. Batas waktu pelarangan UN ini berlaku sejak keputusan ini dikeluarkan dan sebagai konsekuensinya pemerintah ilegal melaksanakan UN 2010. Pemerintah baru diperbolehkan melaksanakan UN setelah berhasil meningkatkan kualitas guru, meningkatkan sarana dan prasarana sekolah serta akses informasi yang lengkap merata di seluruh daerah.
Berdasarkan informasi perkara di situs resmi MA, perkara gugatan warga negara (citizen lawsuit) yang diajukan Kristiono dkk tersebut diputus pada 14 September 2009 lalu oleh majelis hakim yang terdiri atas Mansur Kartayasa, Imam Harjadi, dan Abbas Said.
Mahkamah Agung menolak permohonan pemerintah terkait perkara ujian nasional, dalam perkara Nomor : 2596 K/Pdt/2008 dengan para pihak Negara RI cq Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono; Negara RI cq Wakil Kepala Negara, Wakil Presiden RI, M. Jusuf Kalla; Negara RI cq Presiden RI cq Menteri Pendidikan Nasional, Bambang Sudibyo; Negara RI cq Presiden RI cq Menteri Pendidikan Nasional cq Ketua Badan Standar Nasional Pendidikan, Bambang Soehendro melawan Kristiono, dkk (selaku para termohon Kasasi dahulu para Penggugat/para Terbanding).
Ini berarti putusan perkara dengan Nomor Register 2596 K/PDT/2008 itu sekaligus menguatkan putusan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta pada 6 Desember 2007 yang juga menolak permohonan pemerintah. Namun, pada saat itu pemerintah masih melaksanakan UN pada tahun 2008 dan 2009. Ini berarti pelaksanaan UN 2008, 2009 yang ‘memaksa’ kelulusan siswa ditentukan beberapa hari merupakan tindakan melanggar hukum. Dalam hal ini, Presiden SBY, Wakil Presiden JK, Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Bambang Sudibyo, dan Ketua Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) Bambang S, dinyatakan lalai memberikan pemenuhan hak asasi manusia (HAM) terhadap warga negara, khususnya hak atas pendidikan dan hak anak yang menjadi korban UN.
Pemerintah juga dinilai lalai meningkatkan kualitas guru, terutama sarana dan prasarana sekolah, akses informasi yang lengkap di seluruh daerah sebelum melaksanakan kebijakan UN. Pemerintah diminta pula untuk segera mengambil langkah-langkah konkret untuk mengatasi gangguan psikologis dan mental peserta didik usia anak akibat penyelenggaraan UN.
Rabu, 11 November 2009

Potret Arab Saudi di Masa Datang


Arab Saudi sedang membuat rancangan pembangunan jalur monorel yang akan menghubungkan kota Makkah, Mina, Muzdalifah dan Arafah. Fasilitas monorel ini akan menjadi sarana transportasi alternatif di saat musim haji.
Pembangunan jalur monorel itu akan dilaksanakan lewat kerjasama antara Saudi Arabian General Investment Authority (SAGIA), Kementerian Transportasi dan Komisi Tinggi Pembangunan kota Makkah dan Madinah, setelah mengkaji hasil studi yang dilakukan International Transport Project Company (ITPC).
ITPC sudah mengidentifikasi tempat-tempat yang akan dibangun jalur monorel. Bahan-bahan pembuatan jalur monorel, termasuk pilar-pilar penyangganya, akan menggunakan besi baja yang kuat. Monorel ini nantinya, akan memiliki empat sampai delapan rangkaian gerbong kereta yang bisa mengangkut hingga 20 ribu penumpang tiap jam.
Perusahaan itu, kini sedang mengontak otoritas berwenang untuk mendapat izin pembangunan, yang dipekirakan akan menelan biaya sebesar tujuh milyar riyal. Setelah mendapat persetujuan dari pemerintah Saudi, ITPC akan melakukan studi teknik dan melakukan kordinasi dengan perusahaan-perusahaan real estate di Makkah, seperti Jabal Omar dan Jabal Khandama, terkait penyediaan stasiun-stasiun monorel di lokasi pemukiman itu. Sumber-sumber di Saudi mengatakan, proyek ini akan selesai dalam empat tahun.
Penasehat tim proyek monorel Dr. Muhmmad Naji Kurdi mengatakan, proyek ini merupakan langkah maju dari sisi kualitatif, terkait transportasi bagi jamaah haji di Makkah dan kota-kota suci di sekitarnya.
"Proyek ini juga akan menciptakan lapangan pekerjaan baru bagi warga Saudi, khususnya dalam pengoperasian monorel dan pembuatan gerbong serta spare part-nya, " ujar Naji Kurdi seperti dikutip surat kabar Al-Madinah.
Sejumlah tempat parkir bertingkat juga akan dibangun di pintu masuk kota Makkah, sehingga para warga bisa memarkir mobilnya sebelum naik monorel. Monorel ini nantinya juga akan melayani jalur Jeddah-Makkah dan Madinah-Makkah.
Jalur monorel dan gerbongnya akan dilengkapi dengan sistem pengamanan yang canggih. Trek monorel akan dibangun setinggi lima setengah meter di atas permukaan tanah dan para penumpang akan menggunakan tangga jalan untuk naik dan turun dari jalur monorel.
Manfaat utama dari keberadaan monorel adalah tidak mengganggu arus lalu lintas jalan dibawahnya. Selain itu, monorel dioperasikan dengan sistem komputerisasi, sehingga bisa dijalankan dengan mudah. Dalam sejarahnya selama 100 tahun, monorel merupakan alat transportasi yang aman dan ramah lingkungan.
Ide pembuatan monorel ini mengemuka, bersamaan dengan ekspansi proyek pembangunan jalur kereta api yang dilakukan oleh Saudi Railways Organization (SRO).


Arab Saudi, seperti juga negara-negara lain yang bergelimang harta, terus melakukan modernisasi. Selain secara pemikiran, seperti diangkatnya seorang perempuan dalam jajaran kementrian di negara itu, juga pembangunan fisik pun dilakukan. Tetapi, pengembangan Arab Saudi, khususnya kota suci Makkah dan Madinah akhir-akhir ini tidak memedulikan situs-situs sejarah Islam. Makin habis saja bangunan yang menjadi saksi sejarah Rasulullah SAW dan sahabatnya.



Bangunan-bangunan itu dibongkar karena berbagai alasan, namun sebagian besar karena ingin menyesuaikan dengan kota-kota besar di dunia lainnya. Bahkan sekarang, tempat kelahiran Nabi SAW terancam akan dibongkar untuk perluasan tempat parkir. Sebelumnya, rumah Rasulullah pun sudah lebih dulu digusur. Padahal, disitulah Rasulullah berulang-ulang menerima wahyu. Di tempat itu juga putra-putrinya dilahirkan serta Khadijah meninggal.



Beberapa bulan yang lalu, Sami Angawi, pakar arsitektur Islam di wilayah Arab mengatakan bahwa beberapa bangunan dari era Islam kuno terancam musnah. Pada lokasi bangunan berumur 1.400 tahun Itu akan dibangun jalan menuju menara tinggi yang menjadi tujuan ziarah jamaah haji dan umrah.



“Saat ini kita tengah menyaksikan saat-saat terakhir sejarah Makkah. Bagian bersejarahnya akan segera diratakan untuk dibangun tempat parkir,” katanya kepada Reuters. Angawi menyebut setidaknya 300 bangunan bersejarah di Makkah dan Madinah dimusnahkan selama 50 tahun terakhir.



Bahkan sebagian besar bangunan bersejarah Islam telah punah semenjak Arab Saudi berdiri pada 1932. Hal tersebut berhubungan dengan maklumat yang dikeluarkan Dewan Keagamaan Senior Kerajaan pada tahun 1994.Nasib situs bersejarah Islam di Arab Saudi memang sangat menyedihkan. Mereka banyak menghancurkan peninggalan-peninggalan Islam sejak masa Ar-Rasul SAW.



Semua jejak jerih payah Rasulullah itu habis oleh modernisasi. Sebaliknya mereka malah mendatangkan para arkeolog (ahli purbakala) dari seluruh dunia dengan biaya ratusan juta dollar untuk menggali peninggalan-peninggalan sebelum Islam baik yang dari kaum jahiliyah maupun sebelumnya dengan dalih obyek wisata.



Kemudian dengan bangga mereka menunjukkan bahwa zaman pra Islam telah menunjukkan kemajuan yang luar biasa, tidak diragukan lagi ini merupakan pelenyapan bukti sejarah yang akan menimbulkan suatu keraguan di kemudian hari. Wallohu alam bi shawab.